30 Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Ilmu disertai dengan artinya

By | September 13, 2019
30 Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Ilmu disertai dengan artinya 1
Kata bijak Jawa tentang ilmu Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang kaya akan makna kata serta kaya akan filosofi. Bahasa ini memiliki beberapa tingkatan, bahasa jawa ngoko, kromo serta kromo inggil sebagai bahasa yang paling halus. Tiap kata dalam bahasa Jawa seringkali diucapkan secara sederhana namun setelah kita digali lebih dalam lagi ternyata di dalamnya mengandung akan sebuah petuah atau kata bijak yang berguna di keseharian kita. Ibarat sebuah kata mutiara bahasa Jawa, kata-kata itu seringkali kita ucapkan terutama dalam pergaulan sehari-hari, namun kita belum tentu mengerti apa makna atau maksud di dalamnya.

 Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa yang kaya akan makna kata serta kaya akan filosof 30 Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Ilmu disertai dengan artinya

Di dalam dunia pendidikan, kata mutiara bahasa jawa khususnya tentang ilmu dan pendidikan, digunakan untuk memotivasi anak didik agar mau berkembang serta termotivasi agar rajin dalam belajar. Kata-kata seperti “kawruhe jero tapak meri” seakan terdengar halus namun itu menjadi sindiran bagi orang yang memiliki pengatahuan singkat, pendek dan sangat kurang pengetahuan.
Tidak semua kata-kata mutiara dalam bahasa jawa disampaikan menggunakan bahasa Jawa halus. Beberapa diantaranya diucapkan dan disampaikan dengan bahasa Jawa kasar atau kita sering mnyebutnya dengan sebutan bahasa ngoko. Gaya bahasa inilah yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, berbicara seorang dengan temannya, atau berbicara dengan orang yang sepantaran dengan kita. Ungkapannya pun cukup unik, atau bahkan terdengar lucu apabila kita dengarkan, seperti pitutur Jawa ” cecak nguntal cagak “, “nulung menthung” dan masih banyak yang lain.
Terlepas dari semua itu, baik kata bijak yag diucapkan dengan bahasa jawa halus maupun bahasa ngoko mempunyai tujuan yang baik yakni : Ingin menyampaikan pesan moral guna menjaga martabat dan kehormatan bangsa melalui nilai-nilai kearifan lokal, dalam hal ini adalah nilai kearifan yang dipegang teguh oleh suku Jawa.  
Apabila beberapa waktu yang lalu admin berbagi mengenai pantun cinta lucu berbahasa Jawa, dikesempatan kali ini admin akan berbagi mengenai kata mutiara berbahasa jawa khususnya yang berhubungan tentang ilmu. Harapannya dengan membaca kata-kata ini, kamu akan semakin termotivasi dalam menuntut ilmu sebagai bekal di masa depan, serta bisa mengerti dan memahami ungkapan-ungkapan yang sering digunakan dalam pergaulan sehari-hari di tanah Jawa. Bagi kamu yang tidak bisa atau tidak mengerti tentang bahasa Jawa, jangan khawatir, karena admin juga menyediakan artinya. Berikut  kata mutiara bahasa Jawa tentang ilmu yang berhasil admin rangkum :
Aja rumangsa bisa, nanging kudu bisa rumangsa
Jangan merasa bisa, tapi harus bisa merasakan
Mungkin diantara kamu pernah mendengar kutipan kata mutiara Jawa diatas. Kutipan yang cukup menohok bagi orang yang menganggap dirinya pintar dan serba bisa. Pesan yang ingin disampaikan dari kutipan diatas adalah : Seseorang yang baik tidak boleh merasa serba bisa, tetapi harus menyadari bahwa dirinya sendiri memiliki kekurangan dan orang lainpun juga memiliki kelebihan yang tidak dimilikinya. Seseorang yang ahli dalam bidang tertentu belum tentu ahli dalam bidang lainnya. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan yang ada, dimana iptek akan terus berkembang.

Keplok ora tombok
Bertepuk tangan itu tidak rugi

Biasanya kata-kata ini dikeluarkan ketika seseorang sedang ditimpa kemalangan, namun orang lain malah mengejeknya. Keplok ora tombok memiliki arti, seseorang yang suka berkomentar dan meremehkan. Dia tidak mau bertindak atau membantu, hanya berkomentar serta tidak memperbaiki keadaan. Berkomentar memang sangat mudah, namun untuk bertindak itu adalah hal yang sulit dilakukan.

Ojo waton ngomong, ning ngomongo nganggo waton
Jangan asal berbicara, tapi bicaralah dengan penuh pertimbangan atau bicaralah dengan dipikirkan terlebih dahulu. 

Banyak orang yang berkomentar dahulu tanpa memikirkan apa akibat kata yang dikeluarkan dari mulutnya akan berakibat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, karena mulutmu adalah harimaumu. 

Adigang, adigung, adiguna
Kekuatan, kebesaran, kepandaian

Banyak orang yang membanggakan dirinya secara berlebihan hingga menimbulkan sifat yang sombong. Adigang adigung adiguna memberikan nasehat kepada kita agar kita tidak sombong dengan apapun yang kita miliki. Baik itu menyombongkan kekuatan, kebesaran maupun kepandaian kita. Orang yang memiliki sifat adigang, adigung, adiguna cenderung menghalalkan segala cara serta apapun yang dimilikinya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun pada akhirnya justru akan berakibat kehancuran pada dirinya sendiri.


Kebo nyusu gudel
Kerbau menyusu pada anaknya 
Pada umumnya anak kerbau menyusu pada induknya, namun kali ini induk menyusu pada anaknya. Kata bijak Jawa diatas memiliki arti orang tua yang minta diajari oleh orang yang lebih muda karena yang lebih muda lebih ahli dibandingkan dirinya. Hal ini bisa terjadi karena perkembangan jaman terutama ilmu dan teknologi, selain itu juga faktor pendidikan. Oleh karenanya tidak ada yang salah apabila orang yang lebih tua meminta petunjuk kepada yang lebih muda meskipun di beberapa kalangan orang Jawa sendiri masih ada sifat feodal.

Kebo sapi dikeluhi, uwong dikandani.
Kata bijak Jawa diatas memiliki arti, jika kerbau atau sapi dalam melakukan sesuatu perlu dicambuk, berbeda dengan orang atau pribadi manusia yang hanya diajak berbicara saja untuk bertindak. 
Selain itu, ungkapan diatas juga menjelaskan tentang perumpamaan orang yang tidak mau berpikir dan mencari jalan keluar disamanakan dengan “kebo” seekor binatang bodoh. Bukan karena orang itu tidak mampu menyelesaikan masalah, melainkan karena orang itu malas mencari solusi dan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Kegedhen endas kurang utek
Kebesaran kepala, kurang otak
Ungkapan ini seringkali ditujukan kepada orang yang sudah dewasa namun tidak pandai baik itu dalam beretika maupun sopan santun. Orang pandai disini bukan hanya soal intelegensi saja, melainkan pandai dalam menempatkan dirinya serta pandai membaca situasi yang terjadi. Meskipun terdengar kasar namun ungkapan ini mengajarkan kita agar selalu bisa menyesuaikan diri, dimanapun kita berada.

Kenes ora ethes
Orang terlihat pintar karena suka pamer
Pernah menjumpai orang-orang yang demikian??  Memang pada umumnya banyak yang seperti itu. Banyak pamer namun sebenarnya tidak bisa apa-apa. Mungkin karena orang itu memiliki tujuan seperti ingin dipuji, ingin mendapat perhatian dari atasan, ataupun ingin disegani orang lain. Disisi lain, orang yang benar-benar berilmu akan cenderung diam serta baru bicara apabila hal itu memang benar sangat diperlukan. 

Laku ing sasmita, amrih lantip
Seorang yang ingin berilmu harus mengasah lahir dan batinnya.
Ilmu tanpa iman akan buta. Ilmu yang bermanfaat harus dikuasai secara lahir batin agar bisa diamalkan dalam kehidupan sehari hari, berguna bagi diri sendiri dan orang lain yang memerlukannya.
Landhep dengkul
setajam lutut
Kita ketahui bersama, tidak ada lutut yang tajam. Kata bijak diatas hanya sebuah makna kias untuk menggambarkan seorang yang bodoh baik itu secara intelegensi maupun bodoh dalam etika dan perilakunya. Orang yang semacam ini memiliki kecenderungan melakukan pekerjaan menggunakan fisiknya, bukan tipe orang yang bekerja dengan daya nalarnya serta ide kreatif yang dimilikinya.

Lembah manah lan andhap asor
Rendah hati dan sopan santun

Jika kebanyakan orang akan menjadi tinggi hati setelah dirinya berilmu, maka leluhur Jawa mengajarkan kita untuk selalu rendah diri. Selain itu, seseorang yang semakin berilmu hendaknya tidak boleh merendahkan atau meremehkan orang lain.  
Tanggap ing sasmita
Mampu menangkap pembicaraan
Dalam bahasa Indonesia, sasmita diterjemahkan menjadi kata simbolis. Jadi bila keseluruhan kata tanggap ing sasmita diartikan, maka mempunyai arti seseorang yang mampu menangkap informasi secara simbolis. 
Tut wuri handayani
Mengikuti dari belakang
Kata bijak atau kata mutiara bahasa Jawa ini mungkin seringkali kita dengar terutama saat kita masih berada di bangku sekolah. Dipopulerkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan. Mengikuti dari belakang adalah tugas seorang pendidik dalam hal ini adalah guru. Setelah menyampaikan ilmu kepada siswa, sejatinya guru tidak lantas melepaskan anak didiknya begitu saja, melainkan harus senantiasa mengawal dan mengikutinya, agar bila terdapat kesalahan guru bisa segera meluruskan masalah tersebut.

Wong pinter kalah karo wong beja
Orang pintar kalah dengan orang beruntung
Ungkapan ini mengajarkan kepada kita untuk selalu mawas diri serta tidak meremehkan orang lain karena mungkin kepandaian atau kemampuannya tidak sama dengan kita. Tuhan maha adil dan seringkali memberikan kesuksesan atau rejeki lebih kepada orang tersebut. Mungkin orang itu mempunyai sifat baik dan seringkali “laku prihatin”. Kalau sudah begitu, orang pintar akan kalah dengan orang yang berunntung, serta orang yang pintar tidak boleh iri hati karenanya.

Lukak apakak
Pandai bicara namun tidak bisa bekerja

Lukak apakak diibaratkan seorang yang bodoh namun berpura-pura dan mempunyai gaya sok pintar. Mungkin pembaca blog ini pernah atau seringkali menemukan orang-orang yang mempunyai sifat demikian. Umumnya orang yang terlalu banyak bicara sebenarnya tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Orang yang pandai, orang yang berilmu akan memiliki kecenderungan untuk diam dan mau berbicara bila hal itu benar-benar diperlukan.

Yoga anyangga yogi
Tingkah laku murid meniru gurunya

Masih seputar Kata mutiara Jawa yang berkaitan dengan ilmu. Bila diartikan Yoga ayangga yogi memiliki arti tingkah laku murid meniru gurunya. Bila dalam bahasa Indonesia kita sering mendengar, guru kencing berdiri murid kencing berlari, ungkapan itu hampir memiliki makna yang sama meskipun tidak sepenuhnya benar. Biasa murid meniru figur gurunya atau anak meniru orang tuanya. Oleh karenanya sebaiknya guru dan orang tua harus memberi contoh yang baik kepada anak ataupun anak didiknya agar mereka tumbuh dan memiliki karakter yang baik.


Blilu tau pinter durung nglakoni
Pintar teori namun belum tentu bisa mempraktekkannya

Orang yang berpendidikan tinggi dan sudah mendapatkan cukup banyak teori namun belum tentu bisa mempraktekkannya. Dalam hal pekerjaan bisa jadi dia kalah apabila dibandingkan dengan orang bodoh dan tidak memiliki dasar teori namun sudah terbiasa melakukannya. Ungkapan ini mengajarkan kepada kita, bahwasanya untuk bisa mendapatkan keahlian, seorang harus banyak belajar, tidak hanya belajar teori saja, melainkan juga harus belajar praktek.

Busuk ketekuk, pinter keblinger
Orang yang bodoh dan orang pintar sama-sama bisa celaka

Kemalangan bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali, termasuk orang bodoh dan orang pintar, keduanya sama-sama bisa celaka apabila tidak pandai dalam menempatkan diri dan membaca situasi. Oleh karenanya perlu sikap kehati-hatian dan saling menyadari satu sama lain agar kemalangan tidak terjadi pada dirinya.  


Dipikir wening sakdurunge tumindak
Dipikir baik-baik sebelum berbuat
Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang senantiasa menekankan kehati-hatian sebelum kita melakukan sesuatu. Sebelum kita berbuat sesuatu atau bertindak, sebaiknya dipikirkan betul-betul, baik buruknya, apakah hal tersebut melanggar norma atau tidak, serta apakah tindakan yang akan kita lakukan  bisa merugikan orang. Seorang yang memiliki kepribadian matang, harus memikirkan betul setiap tindakannya. Bila orang tersebut sudah memutuskannya, maka dia harus bisa menanggung resiko yang akan dialaminya.
Gemi, taberi, nastiti ngati-ati
Hemat, bersungguh-sungguh,  cermat dan hati-hati
Salah satu kata mutiara Jawa yang dilekatkan pada seorang perempuan. Secara umum, ungkapan tersebut merupakan watak dan karakter yang harus dimiliki oleh seorang perempuan, terutama seorang perempuan yang sudah membina hubungan rumah tangga. Watak yang hemat dalam mengelola rejeki yang diterima pasangan hidupnya, sungguh-sungguh dalam mengurus rumah tangga serta senantiasa berhati-hati dalam segala perbuatannya, agar keluarga yang dibinanya bisa menjadi keluarga yang harmonis.
Jembar kawruhe
Luas ilmu pengetahuannya 
Ungkapan ini menggambarkan seorang yang kaya akan ilmu dan wawasannya. Dia tidak hanya belajar dari lingkungan sekolah atau pendidikan formal saja melainkan belajar dari lingkungan di sekitarnya. Kondisi inilah kondisi yang ideal untuk dibangun dan dikembangkan dalam lingkungan keluarga. Dimana pendidikan adalah utama serta bisa menjadikan anggotanya tumbuh menjadi pribadi-pribadi unggul.
Koyo kodhok ketutupan bathok
Seperti katak dalam tempurung
Katak umumnya hidup bebas di alam. Namun apabila katak tersebut berada dalam tempurung, tentunya dia tidak mengetahui apa-apa di dunia luar. Kata bijak ini mengajak kepada kita, untuk selalu membuka wawasan kita, terutama tentang informasi tidak terkecuali ilmu pengetahuan yang ada. Harapannya agar kita tidak ketinggalan jaman dan bisa mengikuti perkembangan jaman. Ini sangat penting ketika kita menemukan suatu masalah, dimana kita bisa melihat masalah tersebut dari berbagai sudut pandang apabila kita memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang cukup.


Kebo bule mati setra
Orang pintar namun hidupnya sengsara
Kepandaian tidak bisa menjamin hidup anda bisa sejahtera. Namun setidaknya dengan kepandaian bisa membuat anda menjadi pribadi yang bijaksana dan tidak mudah ditipu oleh orang lain. Oleh karenanya, hidup jangan mengandalkan kepandaian saja melainkan kita juga harus bisa berfikir kreatif serta bisa memanfaatkan ilmu kita agar bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Ladak kecangkrak
Orang sombong banyak musuhnya dan seing celaka
Orang yang suka mengagung-agungkan dirinya baik itu kemampuan atau hartanya kelak akan menemui kesulitan. Orang yang memiliki sikap sombong cenderung mempunyai sifat meremehkan orang lain. Padahal, bisa saja yang diremehkan mempunyai banyak kelabihan dibandingkan dengan dirinya sendiri. Sialnya, banyak orang yang tidak suka dengan orang yang memiliki sifat demikian. Oleh karenanya, dia akan memiliki banyak musuh dan sering celaka.
Mulur nalare
Bisa berfikir jauh ke depan
Ungkapan ini memiliki makna sesorang yang jauh memiliki pandangan ke depan dan bisa berpikir secara bijaksana. Pribadi yang semacam ini tidak melihat sesuatu melalui satu sudut pandang saja melainkan banyak pertimbangan tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di masa mendatang.
Mumpung anom ngudiya laku utama
Mumpung masih muda carilah ilmu utama.  
Umur tidak akan bisa terulang kembali. Oleh karena itu, mumpung masih muda, masih memiliki raga dan pikiran yang prima carilah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Mereka yang sukses adalah mereka yang tidak menyia-nyiakan masa mudanya dan mengisinya dengan pengalaman dan ilmu.

Ngelmu pari tansaya isi tansaya tumungkul
Ilmu padi semakin berisi semakin merunduk
Sejatinya orang yang memiliki pendidikan tinggi serta memiliki banyak ilmu, akan semakin merendahkan dirinya dan sedikit berbicara. Semakin beretika dan bisa menempatkan posisi dimanapun dia berada. Dia tidak akan banyak menunjukkan kemampuan atau kepandaiannya namun akan berbicara dan bertindak apabila benar-benar diperlukan.

Ngunduh wohing pakarti
Menerima hasil kerasnya
Kata bijak Jawa diatas berlaku tidak hanya dalam budaya Jawa saja melainkan berlaku secara universal. Bahkan dalam ajaran beberapa agama ditemukan nilai-nilai yang sama. Siapa yang menanam dia akan menuai. Siapa yang menanam kebaikan dia akan menerima kebaikan. Siapa yang menanam keburukan dia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.
Nuladha laku utama
Meneladani tingkah laku utama
Kata bijak Jawa diatas memiliki arti bahwasanya dalam meneladani tingkah laku haruslah pada perbuatan-perbuatan yang baik dan mulia. Jangan hanya ikut-ikutan saja melainkan kita harus selektif dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. 
Ora polo ora uteg
orang yang sangat bodoh
Ungkapan ini berarti orang yang sangat bodoh, lamban dalam menangkap pembicaraan serta susah untuk diajak berpikir.

Semua petuah bijak Jawa tentang ilmu diatas adalah nilai-nilai luhur yang dijadikan pedoman hidup leluhur kita orang Jawa. Nilai-nilai itulah yang harus kita lestarikan dan kita teladani meskipun kita hidup pada zaman yang berbeda. Dengan begitu kita bisa menjadi pribadi yang bijaksana dan bermartabat tanpa harus kehilangan jati diri kita sebagai orang Jawa, yang masih menjadi bagian dalam satu negara kesatuan republik Indonesia.